Tampilkan postingan dengan label AGAMA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AGAMA. Tampilkan semua postingan
09.48

PERJUANGAN RASULULLAH

REFLEKSI HISTORIS PERJUANGAN RASULULLAH


“Sungguh tak terperihkan bagai disayat pisau secara perlahan-lahan, hati Ilham yang tengah berjihad dalam ilmu yang melihat duka, air mata, rintihan dan jeritan hati yang tak terkira dari mata dan mulut hamba-hamba Allah, saudara-saudara se-addin di Libanon, Palestina, Irak, Afganistan, Aljazair dan di negeriku sendiri “katanya”. Kehadiran sang kekasih dambaan hati “Maryam” yang dengan penuh kesabaran menanti bahtera cinta berlabuh lewat penantian penuh asa, meski rasa was-wasnya tak tertahankan, tetapi iman telah mengalahkan seteru dan telah mengokohkan rasa cintanya pada Allah dan Islam, melebihi cintanya pada sang kekasih dambaan hati. Syahdan telah terdengar pembicaraan serius antara dua sejoli di kamp pengungsi Qana’a. “Mar”? sambil Ilham mengatur dan menyiapkan kotak-kotak yang berisi makanan, buah kismis, dan pakaian yang akan segera dibagikan ke Tepi Barat dan juga distrik lain sekitar Qana’a yang sedang berduka. “ apakah cinta yang telah bersemi selama ini kan tumbuh dengan subur agar dapat kita arungi bahtera cinta lewat deru-deru ombak disetiap saat singgah di hatiku, sementara setiap saat pula malaikatul maut dengan setia menghampiriku di medan jihad ini”. Dengan penuh ketegaran Maryam menjawab “mengapa tidak, kalau kecintaanmu terhadap Allah dan Islam senantiasa mewarnai cintamu padaku dan aku telah merelakan dikau dalam jihad, pergilah! Semoga Allah bersama perjuanganmu” (@i Bru, Ikhtiar, 31 Maret 2007)

Illustrasi singkat kemenangan pasukan jihad di medan perang Badar Kubro sebagai perang pertama dalam sejarah Islam. Setidaknya fakta sejarah ini telah ikut mengusik fikiran tenang kita, apakah logika exacta juga akan berlaku ‘bahwa tidak mungkin ada bom nuklir tanpa ada uranium atau plutonium sebagai materi pembuat setelah mengalami proses pengayaan tingkat tinggi (yang diperkaya)? Sekilas menjadi tampak bahwa kerja berat jelas membutuhkan energi yang luar biasa. Tetapi apakah logika tersebut juga akan berlaku pada keadaan yang didalamnya Allah lebih banyak melakukan intervensi misalnya, “apakah materi tanpa substansi juga mampu memberikan energi”. Secara ilmiah tentu akan sangat sulit menerima kehadiran kekuatan transenden dalam exprimen-exprimen mereka, akan tetapi sekali lagi intervensi sang khalik akan menepis sebagian asumsi-asumsi tersebut.
Ataupun illustrasi kehadiran karakter yang dilakonkan sosok Ilham di atas, terasa sungguh amat jarang bisa kita temui ditengah geliat budaya glamour yang telah melanda umat. Pamor glamouritas sedikit demi sedikit menggerogoti nadi-nadi sensitive keimanan kita yang selalu dikelilingi oleh kenikmatan, kesenangan dunia yang tiada tara. Kesenangan yang selalu dibungkus oleh selubung syahwat yang munafik dan hegemonik, setidaknya telah meruntuhkan harapan banyak generasi yang dipundaknya terpikul beban yang amat berat. Tetapi dengan kenikmatan yang telah Allah turunkan, setidaknya Addinul Islam masih menjadi tirai pengahalang bagi burung-burung hantu yang mensenandungkan nyanyian malapetaka bagi umat untuk tetap punya batas dan tidak bisa bersenandung dengan semena-mena dan sekendaknya syahwatnya.
Tidak terasa kita akan masih dalam suasana memperingati maulid nabi besar Muhammad SAW, seorang rasul, seorang pemimpin Agama dan Negara, sang Reformer terbesar hingga dewasa ini yang telah melahirkan sebuah peradaban yang agung yaitu “Islam”, kemudian hari kemerdekaan (Proklamasi 17 Agustus 2007) yang ke-62 dan sebentar lagi kita akan memasuki Bulan Suci Ramadhan 1429 H. Sebagai umat Islam, momentum maulid, Proklamasi maupun Ramadhan ini hendaknya kita mampu menjadi wahana refleksi tentang bagaimana Nabi Saw berjuang menegakkan panji-panji Islam, memberantas sistem yang bobrok dan rusak, bagaimana beliau menjadikan generasi muda untuk selalu berada digarda terdepan untuk mewujudkan sebuah masyarakat yang maju, demokratis dan berperadaban, lewat sentuhan-sentuhan lembut dan menukik kalbu “dakwah Islamiyah” dan bahkan dengan kekuatan fisik pun beliau telah berjuang demi kemajuan dakwah Islam. Kemudian dengan momentum Hari Proklamasi 17 Agustus 1945 hendaknya mampu kita jadikan sebagai momentum bagaimana para pejuang dan para pemimpin bangsa berjuang sampai dengan titik darah penghabisan untuk hanya ingin merebut dan memperjuangkan kata “Merdeka”, atau bagaimana kemudian dengan bulan suci Ramadhan 1429 H ini, mampu kita jaidkan sebagai wahana refleksi diri bagimana umat Islam berjuang melawan kafir quraisy dan menegakkan panji-panji Islam.
Kekuatan iman telah mampu ditunjukkan oleh pasukan kaum muslimin pada waktu perang badar kubro. Menurut sejarah, inilah perang yang pertama dalam sejarah Islam dan dilakukan dalam situasi yang penuh dengan ujian yang maha berat yaitu di bulan suci Ramadhan. Sebuah bentuk pertarungan yang sungguh sangat berat. Di satu sisi ada kekuatan Islam yang diamunisi oleh iman dan cinta, sementara di sisi lain ada kekuatan yang lain yang dimotori oelh syahwat , kekuasaan dan kezaliman. Secara kuantitas, kaum kafir pantas menang, tetapi ini bukanlah ukuran yang di pakai oleh Rasulullah Saw, bukan itu yang ditakutii dan diperhitungkan dalam memenangkan jihad ini. Tetapi yang ditakutkan Rasulullah adalah ketika ada diantara kaum muslimin yang lemah imannya dan tidak bisa mempertahankan rasa cinta mereka terhadap Allah dan Addinul Islam. Dan kemudian akan menurunkan semangat juang mereka lalu akhirya akan menderita kekalahan.
Hampir saja iman goyah, rasa takut muncul, belum lagi lapar dan dahaga yang mendera ketika kaum muslimin yang berjumlah lebih kurang 300 orang mendengar gemuruh pasukan yang bersenjatakan lengkap (kafir quraisy) yang jumlahnya 3000 orang. Sungguh suatu kekuatan yang tidak seimbang. Tetapi Rasulullah Saw dengan penuh kesabaran dan keyakinan senantiasa memberi spirit “iman” kepada pasukannya. Bahwa persoalan kuantitas bukanlah syarat bagi suatu kemenangan, bukanlah panas terik dan hawa menyengat padang pasir menjadi tirai penghalang menuju kepada keridhaan Allah dan yang membuat fisik-fisik mereka menjadi lemah. Cintanya pada Allah dan Islam telah menyemburkan aura iman meski ditengah kilatan pedang musuh, dan…..iman telah membawa kemenangan atas panji-panji Islam di medan Badar Takluk.
Rupanya ada semburan energi lain yag ikut menambah kekuatan fisik mereka dalam mengalahkan musuh Allah, ganasnya padang pasir bukanlah menjadikan landasan menyurutkan niat mereka menuju tegaknya panji-panji dakwah Islam dan bukan karena alasan kuantitas yang tidak seimbang menjadii ukuran akan kekalahan mereka. Tetapi ukuran kualitas iman dan rasa cinta yang menjadi penentunya. Semburan energi cinta dan iman telah mengalir deras yang kemudian ikut dibakar oleh api jihad lewat panasnya matahari padang pasir. kemenangan bagi iman dan cinta mereka adalah yang utama dan kemenangan terhadap musuh adalah yang pertama. Dan wajar kalau telah tersembur pancaran kekuatan Islam sebagai rahmatal lil alamin lewat intervensi sang kholiq (Allah Swt), yang pada akhirnya membawa kemenangan “Badar takluk”.
Konsekuensi refleksi atas tinta emas sejarah islam masa lalu seakan terus mengalir lewat nadi-nadi generasi kemudian yang berusaha terus menjadikan momentum hari-hari besar Islam ini sebagai momentum yang tepat menggalang kembali talii ukhwah yang putus, ikatan ukhwah yang renggang, menyeruhkan ‘adalah, tasamuh antara sesama umat manusia. Sebagai bentuk manifestasi itu adalah munculnya serangkaian aktivitas ibadah serta berbagai aktifitas-aktfitas sosial lainnya yang dilakukan ummat Islam di seluruh dunia. Bahkan sampai hari ini masih banyak saudara-saudara kita yang tetap berada dalam dua jihad sekaligus baik itu terhadap hawa nafsu maupun jihad syuhada (perang melawan kaum kuffar yahudi dan nasrani) dalam mempertahankan tanah air maupun keyakinan mereka. Konsep “hubbul al wathan min al iman” haruslah menjadi spirit perjuangan serta keyakinan mereka akan intervensi Allah disetiap derap langkah mereka dalam jihad selalu akan menjadi amunisi yang tidak akan pernah habis.


Mensyukuri Nikmat Allah

Bagi umat Islam Indonesia sepatutnya kita lebih banyak bersyukur kepada Allah, meskipun begitu banyak badai ujian dan cobaan yang datang silih berganti tiba dan datang menyapa, tetapi kita masih diberi nikmat ketenangan dan kedamaian dalam menjalankan berbagai aktivitas ibadah. Bila kita bandingkan dengan keadaan yang kini menimpa saudara-saudara kita se-addin yang rela menjalankan berbagai aktivitas di tengah peperangan, ancaman-ancaman aggressor yang despotis (baca: AS terhadap Iran dan negara-negara Arab yang lainnya tak terkecuali negara berkembang ). Mereka yang berada nun jauh di sana dengan penuh harap menginginkan suasana seperti ini. Umat Islam Palestina, Irak, Lebanon dan Afganistan, masih terus berjaga-jaga dan siap siaga dari ancaman peluru-peluru kendali dan roket-roket kaum despotis, korup dan zalim yang setiap saat bisa saja menghilangkan nyawa mereka. Darah-darah syuhada pun seakan mengalir sepanjang waktu karena mempertahankan ad-dinnya, tanah air serta kehormatannya. Sungguh menyedihkan memang kondisi yang telah kita alami saat-saat ini. Rupanya keserakahan, kesombongan, keangkuhan dan rasa menipisnya iman dalam hati telah membawa petaka bagi sesama umat manusia, perbedaan ideologi, suku, agama, ras dan prinsip telah menceburkan manusia dalam new dark age.
Keinginan untuk menikmati hidup damai seakan tak lagi difikirkan yang terpenting kekuasaan, pengaruh dan uang, karena dorongan syahwat yang begitu menggelora dalam diri mereka. Ironis memang, melihat fakta-fakta yang ada, jangankan antar berbeda keyakinan, sesama muslim pun kita seringkali dihadapkan pada berbagai bentuk friksi-friksi baik internal maupun eksternal. Tak heran kalau tali ikatan ukhwuah menjadi renggang, persatuan menjadi lemah, dakwah semakin susah ditemukan spiritnya. Padahal Allah Swt, secara tegas telah menyatakan bahwa betapa pentingnya menjalin dan menjaga persatuan dan kesatuan serta persaudaraan yang kokoh, kekuatan diorganisir dan dihimpun kembali untuk menuju kepada kemenangan dakwah Islam.
Sahabat Rasulullah Saw, Sayyidina Ali KA pernah berfatwa mengenai urgensi persatuan umat dengan kata-kata “Kebaikan yang terorganisir akan senantiasa kalah dengan kejahatan yang terorganisir” senafas dengan berbagai problematika yang kini dihadapkan pada umat Islam, mengisyaratkan bahwa peran serta generasi muda, generasi dakwah menjadi suatu keniscayaan. Karena di jiwa-jiwa mudalah tersembur kekuatan fisik, mental dan Insya Allah (spiritual) yang senantiasa akan memandu estafet perjuangan di masa-masa mendatang.
Apapun yang dikatakan tentang pemuda, maka sesungguhnya dipundak merekalah terpikul beban, terdapat solusi-solusi bagi nasib bangsa, masyarakat dan umat. Islam memposisikan pemuda ditempat yang sangat strategis yaitu penentu nasib bangsa lewat akhlakul kariemah yang dimilikinya. Ibnu Rusyd, intelektual Islam yang sangat fenomenal pada masanya pernah berkata, bahwa ‘nasib suatu bangsa terletak ditangan generasi muda, apabila akhlak generasi muda rusak (hancur), maka hancurlah bangsa itu dan apabila akhlak generasi muda baik maka baiklah bangsa tersebut”.
Ukhwuah berfungsi mengokohkan kepingan-kepingan kekuatan yang terserak, tali hubungan haruslah sinkron antara habluminallah dengan hablumminannaas, karena penganaktirian terhadap dua konsep tersebut, maka sesungguhnya azab dan bencana sudah ada didepan mata. Telah begitu banyak fakta, bukanlah janji yang dibikin manusia yang kapan saja bisa diingkari. Ini adalah janji Allah Swt sebagaimana diterangkan Allah Swt dalam salah satu ayat Al-Qur’an “Duribat alaihimutsillatu ainama tsuqifu illa bihablimminallah wa hablumminannaas” yang artinya :” akan ditimpakan azab dimanapun mereka berada, kecuali apabila mereka berpegang pada tali agama Allah dan tali hubungan sesama manusianya” .
Di sinilah generasi muda memainkan peran strategis dalam melepaskan diri dari belenggu keterisolasian, kejumudan dan rantai hegemonik dan “free market of ideas” benar-benar akan terjadi dalam ruang publik. Sehingga peran strategis kaum muda Islam akan semakin diperhitungkan ketika mereka yang telah mampu dan terus melawan dan menggugat segala hal yang kontradiktif dengan spirit Islam baik dalam konteks politik, pemerintahan, ekonomi, sosial budaya dan pendidikan sebagai penyangga peradaban. Karena tidak ada sesuatupun subyek yang luput dari pengamatan Islam, sepanjang itu berhubungan dengan nasib umat secara universal.

08.35

TEKS MSQ3

MEMBENTENGI AQIDAH DARI SEMBURAN DEBU-DEBU KEMUSYRIKAN

KAFILAH
KELURAHAN BRANG BIJI
2008/2009

Bapak Dewan Hakim Yang Kami Hormati
Hadirin Yang Berbahagia

Sejalan dengan judul yang kami angkat pada kesempatan ini,yaitu “Membentengi Aqidah Dari Semburan Debu-Debu kemusyirikan” ingin kami iringi dengan mengetengahkan sebuah firman Allah Swt, sebagai fokus kajian kita, dalam surat An-Nisa:48 berikut ini:







Artinya :Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang dia kehendaki.barang siapa mempersekutukan Allah,maka sungguh,dia telah berbuat dosa yang besar.


Bapak Dewan Hakim Yang Kami Hormati
Hadirin Yang Berbahagia

Ayat tersebut diatas memberikan ilustrasi yang cukup jelas kepada kita, bahwa syrik merupakan dosa besar yang tidak akan diampuni oleh Allah SWT.Ini mengandung pengertian bahawa tidak akan berarti apa-apa amal kebaikan yang kita lakukan ,manakala keyakinan kita masih dikotori oleh hal-hal yang berbau syirik.atau dengan kata lain syrik akan mencoreng nilai kebajikan dan amal ibadah yang kita kerjakan.




Menyadari akan bahaya yang akan ditimbulkan oleh syrik, pantaslah jika kemudian Lukman seorang yang namanya diabadikan oleh allah dalam Al-Qur,an, ketika memberikan nasehat kepada anak-anaknya,maka hala yang pertama kali diingatkan adalah laragan berbuat syirik.Dengan Indah Allah SWT melukiskan hal ini sebagaimana termaktub dalam firmannya pada surah Lukman ayat 13 beriku ini :







Artinya : Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, “wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah,sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.

Bapak Dewan Hakim Yang Kami Hormati
Hadirin Yang Berbahagia

Dari ayat diatas, kiranya cukup jelas bagi kita bahwa syirik adalah perbuatan yang harus dijuhkan ,sebab ia dapat mengancam kontiniuitas dan orisinilitas aqidah kita kepada Allah Swt. Rapuhnya Aqidah sebagai ekses yang lahir dari perbuatan syirik, rupanya menjadi salah satu penyebabutama runtuhnya ummat islam terbuai dalam melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang agama. Dan pada akhirnya predikat sebagai khira Ummah yang melekat pada diri ummat islam, tidak lebih dari hanya sekedar jargon belaka, sebab realita kehidupan kekinian menempatkan posisi ummat islam dibelakang shaf ummat-ummat lainnya dalam berbagai lini kehidupan.


Bapak Dewan Hakim Yang Kami Hormati
Hadirin Yang Berbahagia

Denagan demikian , Aqidah nampaknya merupakan suatu yang amat bernilai dan berharga dalam hidup seseorang. Ia merupakan sumber inspirasi dan motivasi yang menjadikan sesuatu perbuatan bernilai ibadah di hadapan Allah SWT. Karena itu kita harus secara seius dan terus menerus berusha menjaga dan memelihara Aqidah kita, agar tumbuh bening, jernih dan bersih tidak tercermari oleh semburan debu–debu syrik yang kotor itu. Dalam konteks itu tiada jalan lain yang di tempuh dan memiliki kekuatan ampuh sebagai perisai dalam menjaga Aqidah dari kemusrikan, kecuali hanya dengan berbekal keimanan kuat dan ketakwaan yang mantap





Nampaknya inilah yang menjadi agenda mendesak setiap kita ummat islam yaitu bagaimana keimanan dan ketakwaan kita mengalami grapik peningkatan dari waktu ke waktu. Berikut ini adalah kiat-kiat yang harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas keimanan kita kepada Allah Swt.

Pertama : menjaga dan memelihara iman dengan menjaga dan memelihara iman dengan tetap menjaga dan memegan teguh komitmen keimanan dengan penuh kesungguhan dan istiqamah. Berpijak pada jalan yang benar yang telah disyariatkan oleh Allah Swt melalui para nabi dan rasulnya.

Kedua : menjaga dan membentengi iman dari erosi dan kerusakan yang ditimbulkan oleh berbagai macam pengaruh manisnya kehidupan duniawi yang bersifat semu dan menipu.

Ketiga : berusaha secara terus-menerus memantapkan dan meningkatkan keimanan dengan menyadari dan menghayati sepenuhnya bahwa tiada tuhan yang patut disembah melainkan Allah Swt tuhan yang menciptakan segala sesuatu yang ada dibumi dan dilangit.

Bapak Dewan Hakim Yang Kami Hormati
Hadirin Yang Berbahagia

Ketika keimanan seseorang menjadi kuat dan kokoh maka kehidupannya tentu menjadi stabil dan terarah, langkahnya menjadi mantap berpijak pada kebenaran tampa sedikitpun dihinggapi keraguan. Sebagaimana Firman Allah Swt dalam surah Al-Hujarat ayat 15 berikut :







Artinya : sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyala orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulnya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihat dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.


Akhirnya marilah kita menjauhkan segala hal yang menyimpan muatan kemusyrikan dalam segala bentuk agar aqidah kita dapat tumbuh subur memantulkan sinar terang dalam kehidupan kita. Semoga keimanan kita menjadi kuat dan berkualitas, menjadi terarah dan penuh makma, sehingga kita dapat meraih kebahagiaan yang hakiki di dunia ini dan di akhirat nanti.


Demikianlah, yang bisa kami sajikan di kesempatan ini, mudah-mudahan dapat menjadi penyejuk hati, penerang bathin, penentram hati, dan semoga kita semua terhindar dari jebakan-jebakan maut kemusyrikan.
Amin ya robbal alamin.

Hadanallahu waiyyakum ajmain
Wassalamu’alaikum wr wb.

08.30

TEKS MSQ2

URGENSI DAN SRATEGI KONSTRUKSI PENCAPAIAN GENERASI QUR’ANI YANG KUAT DAN AMANAH

KAFILAH
KECAMATAN BATULANTEH
2008


Bapak Dewan Hakim Yang Kami Hormati
Hadirin Yang berbahagia

Sesuai dengan ruh pelaksanaan MTQ ,yang telah menjadi agenda rutinitas tahunan kita, maka pada kesempatan ini kami mencoba kembali menyampaikan pen syarahan dengan judul “Urgensi dan Strategi Konstruksi Pencapaian Generasi Qur’ani Yang Kuat dan Amanah” dengan iringan harapan bahwa sebuah generasi pilihan beridentitaskan Al-Qur’an, benar-benar terlahir sebagai power dalam menegakkan Agama,Nusa dan bangsa, sehingga ummat islam bisa merewin masa-masa keemasan dan kejayaannya seperti dimasa silam.
Sebagai dasar pijakan kami dalam mengawali syarahan ini, berikut kita dengarkan firman Allah Swt, yang tertera dalam surat Al-Qashas ayat 26 berikut ini:





Artinya : Dan salah seorang dari kedua (perempuan) itu berkata: “wahai Ayahku jadikanlah dia sebagai pekerja (pada kita), sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja (pada kita) ialah orang yang kuat dan dapat dipercaya”

Bapak Dewan Hakim Yang Kami Hormati
Hadirin Yang Berbahagia
Telah menjadi konsensus universal yang tak terbantahkan dikalangan kaum muslimin dan merupakan salah satu bagian dari aqidah fundamental yang harus diyakini bahwa al-qur’an adalah kitab suci wahyu ilahi yang memuat catatan-catatan norma hukum keagamaan serta tata nilai spiritual. Moral dan sosial yang harus dianut dan dijadikan acuan atau rujukan berbuat dan bertindak dalam seluruh segmen kehidupan baik dalam konteks Hablumminallah maupun Hablumminannas. Artinya bahwa keseluruhan performance seorang muslim haruslah senantiasa senapas atau senada dengan nilai-nilai qur’aniyah.
Ketika ajaran-ajaran Al-qur’an terjewantah secara paripurna dalam gaya dan karya seseorang, maka tak diragukan lagi akan tercipta suatu struktur masyarakat berpradaban Al-qur’an yang memiliki komitmen tinggih menegakkan dan mengibarkan panji-panji kebenaran hakiki serta menjunjung tinggi nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan sejati, sehingga nuansa kehidupan surgawi yang bertaburka kenikmatan, kasih sayang berikut dengan segala romantismenya, bukanlah sebuah patamorgana melainkan realitas yang benar-benar dinikmati.
Inilah model kehidupan yang dicita-citakan tentunya, dan harus disadari ini akan terwujud apabila figur-figur generasi qur’ani yaitu generasi pilihan yang menjadikan Al-qur’an hiasan kepribadian, berperan sebagai actor utama diatas panggung kehidupan ini. Laksana apa yang telah dipentaskan dengan elegan oleh generasi utama ummat ini yaitu para sahabat dan salafussoleh dengan segudang prestasi duniawi dan ukhrawi yang telah mewarnai lembaran sejarah kehidupan ummat manusia selama beberapa abad.
Dari ayat 26 surat Al Qoshas diatas, kita mendapatkan satu pemahaman yang cukup jelas, tentang sosok atau profil generasi Qur’ani yang pada dirinya melekat akhlaqul karimah sebagai identitas kepribadiannya. Dua ciri yang nampak sangat menonjol yaitu kuat dan amanah. Seorang muslim dituntut memiliki fisik dan psikis yang kuat lagi amanah sebagaimana sosok yang diperankan Nabi Musa As, sehingga ia dipilih menjadi seorang yang diberikan otoritas dan kredebilitas memanaj kekayaan yang dimiliki Nabi Syuaib As. Itulah sebabnya Nabi SAW memperingatkan kita dalam sabdanya :





Artinya : “Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah dari pada mukmin yang lemah”.

Dewan hakim yang mulia
Hadirin yang berbahagia.



Ungkapan kuat yang tertera pada ayat diatas dapat dipahami dari dua perspektif yaitu : pertama kuat dalam arti fisik/jasadiyah.
Tidak dapat dipungkiri bahwa kita membutuhkan kondisi fisik yang kuat dan sehat. Sebab ini merupakan modal utama kita, dalam rangka menjalani tugas dan fungsi kekhalifahan kita dimuka bumi yaitu bekerja mengatur dan mengelolah segala potensi sumber daya alam secara maksimal yang memang telah dikaruniakan oleh Allah Swt untuk kepentingan kehidupan ummat manusia. Untuk hal itu kita harus melakukan upaya penataan dan pembentukan jasadiyah secara syar’iyah. Salah satu cara yang bisa dilaskukan adalah mengkonsumsi makanan dan minuman yang tidak hanya memiliki kadar nilai kesehatan tinggi atau bergizi, tapi juga mempunyai lisensi atau sertifikasi halal yang dalam terminologi Al Qur’an disebut ‘halalan toyyiban’ [halal lagi baik]. Dalam Al Qur’an, surah Al Baqarah ayat 168 Allah menjelaskan hal ini’;



Artinya ;Makanlah dari makanan yang halal dan baik yang terdapat di bumi,dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan.sungguh setan itu musuh yang nyata bagimu.k edua,kuat dalam arti pyskis/ruhiyah.
Konstruksi fisik atau stamina yang prima semata, sesungguhnya belum cukup menjadi unsur permanen yang dapat mengangkat derajat kemanusiaan berada pada tingkatan kesempurnaan. Sebab manusia sendiri tercipta dari dua dimensi yaitu fisik dan pyskis. Karena itu membangun keduanya secara simultan adalah sebuah kebutuhan, bahkan menempa jiwa yang tangguh justru harus mendapat attensi/perhatian atau porsi lebih, karena jiwalah yang dijadikan ukuran kualitas kemanusiaan dihadapan allah swt. Rasulullah Saw bersabda :






”Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk tubuhmu, tetapi Dia melihat kepada hatimu dan perbuatanmu”.

Menata pilar bangunan jiwa yang kokoh sudah barang tentu memrlukan usaha maksimal dan kontinyu, serta membutuhkan kesabaran penuh. Mengingat implikasinya baru bisa tercapai setelah melewati masa penantian yang cukup panjang, bila dibandingkan dengan pembangunan fisik yang relatif hasilnya dapat lebih cepat disaksikan. Untuk membangun jiwa yang kuat, dapat dilakukan dengan optimalissasi kerja spritualitas dan moralitas secara intens.
Keistiqomahan dalam kerja spiritual ini, akan melahirkan sebuah kematangan dan kekuatan jiwa yang tak tergoyahkan,betapapun derasnya gelombang yang hendak menenggelamkan kita kelembah kemungkaran. Dan pada akhirnya akan tumbuh dalam diri konsistensi sikap, akhlak dan sifat-sifat mulia diantaranya adalah amanah.Amanah merupakan sifat yang dimiliki oleh Rasulullah Saw, sehingga orang-orang quraisy memberinya gelar al amin, sebuah gelar yang belum perna disandang oleh siapapun sebelumnya dan sesudahnya sampai akhir zaman. Dengan sifat amanah yang melekat pada dirinya, Rasulullah saw berhasil menciptakan suatu tatanan kehidupan yang berperadaban Al Qur’an, dengan masyarakat yang religius memiliki iman dan taqwa yang kuat dan mantap, dalam rangkulan atmosfer baldatun toyyibartun warobbun gofur. Demikianlah jika pribadi-pribadi qur’ani seperti sosok Rasulullah Saw. Menjadi penghuni alam raya ini, maka dunia akan menjadi aman, kehidupan akan tentram, keadilan dalam segala bentuk aturan akan dirasakan, hubungan persaudaraan berjalan penuh kedamaian sehingga kenikmatan dan pertolongan allah akan datang mewarnai kehidupan. Allah menjelaskan hal ini sebagaimana termaktub dalam surat Al-A’raf ayat 96 sebagai berikut :





Artinya: ”Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Kami, maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan”.


Dewan hakim yang kami hormati
Hadirin yang berbahagia

Apabila karakter seperti ini tercermin dari setiap personal kaum muslimin, bisa dipastikan kualitas kehidupan ummat islam akan meningkat, derajat dan martabat akan terangkat, sikap akan memikat dan kemajuan yang ditorehkanpun akan berjalan pesat. Dengan demikian ummat islam tidak lagi dijadikan bulan-bulanan yang boleh diperlakukan semaunya oleh ummat-ummat lain akibat jati dirinya telah hilang.
Dewasa ini kita menyaksikan keadaan manusia semakin menunjukkan peyorasi yang cukup signifikan. Secara umum hampir dalam setiap segi kehidupan ummat, secara khusus dalam segi moralitas dan akhlak yang bobrok semakin menunjukkan persentase angka yang memprihatinkan yang pula berpangkal pada kekuatan ‘agama’ seseorang itu sendiri.Spesifikasi utama lebih lanjut dapat kita amati, generasi-generasi islam yang nota bene diharapkan dapat meneruskan syiar islam kian masa semakin menampakkan fakta-fakta menyedihkan, yang ditandai dengan semakin buruknya perilaku keseharian mereka. Meninggalkan perintah-perintah dan ajaran-ajaran agama seakan menjadi kebiasaan, memprioritaskan kehidupan duniawi dalam setiap dimensi kehidupan seolah dinilai sebagai suatu hal yang tidak perlu diambil pusing, pun menganggap agama hanya sekedar pelengkap mulai menunjukkan gejala yang sangat berbahaya dengan sejuta peluang yang semakin bermunculan bak jamur dimusim hujan.Tidaklah mengherankan jika kemudian saat ini ummat islam berada dibawah dominasi dan prestasi ummat lain,karena memang kita sudah kehilangan ruh berislam secara kaffah, bahkan tanpa sadar kita telah secara sistematis terperangkap atau terkontaminasi dalam sebuah lingkaran kehidupan yang dengan perlahan tapi pasti mengeliminasi nilai-nilai islam dan Qur’an. Tidakkah kita khawatir dengan fakta-fakta riil yang mulai berusaha memainkan peran, berlomba dan berpacu dengan waktu dalam kancah pengaruh global yang terasa kian mencekam.
Oleh karena itu, menanggapi permasalahan-permasalahan keummatan yang begitu konfleks, seperti yang telah dideskripsikan diatas, kami ingin menawarkan pola-pola pendekatan ataupun trik-trik yang dapat kita coba penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dimana kami mencoba memoidifikasi dan mengkolaborasi metode-metode yang sudah ada dengan ide-ide pokok lain yang berkembang seiring perkembangan zaman diantaranya sebagai berikut:

Penanaman Nilai-Nilai Dasar Keimanan
Ini dapat dilakukan semenjak manusia dilahirkan kedunia ini,yaitu dengan menghembuskan alunan suara adzan ditelinganya.Dengan demikian kalimat yang pertama kali didengar dan merasuk kedalam relung jiwa adalah kalimat-kalimat suci berisi mengenai ajaran tauhid ilallah.Sebagaimana apa yang dicontohkan oleh Luqman al Hakim dalam surah luqman ayat 13 berikut ;






Artinya ;Dan ingatlah ketika luqman berkata kepada anaknya,ketika dia memberi pelajaran kepadanya,’Wahai anakku,janganlah engkau mempersekutukan Allah,sesungguhnya mempersekutukan Allah benar-benar kezaliman yang besar.
2. Didikan keluarga yang berbasis islami.
Keluarga atau rumah tangga adalah tempat pertama memberikan dan menanamkan beragam pelajaran kehidupan yang belum kita ketahui sebelum kita dapat berintraksi keluar dengan berbagai figur manusia yang beragam. Karena itu hendaknya keluarga atau rumah tangga di fungsikan sebagai arena terindah bagi anggota-anggotanya untuk ladang persemaeian amal, ruang muhasabah, dan tempat berbagi suka dan duka. Adakah tempat terindah bagi seorang muslim sejati selain keluarga dan rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rohmah yang berlandaskan Al Quran dan berkepribadian Al Qur’an.
3. Membekali generasi muda dengan pendidikan islam yang mapan.
Generasi muda sebagai harapan masa depan perlu dibentuk karakternya dengan pendidikan berbasis islami agar di kemudian hari mereka tumbuh sebagai generasi-generasi yang mencintai islam sebagai agamanya dan alqur an sebagai kitab sucinya.
4. kalangan orang tua menjadi suri tauladan.
Tauladan positif dari orang tua akan memberikan corak dan warna tersendiri bagi seorang anak.karena itu orang tua hendaknya mengedepankan nilai-nilai keislaman sebab orang tua dalam islam dapat dikatakan sebagai faktor utama pembentukkan pribadi-pribadi tiap ruh manusia yang ada di muka bumi ini.

Bapak dewan hakim yang kami hormati
Hadirin yang berbahagia
Demikian manajemen konstruksi yang kami paparkan di atas,di harapkan dapat melengkapi metode-metode yang sudah ada atau sedikit tidak dapat memberi sumbangsi moril,suport,dan sugestion bagi para generasi-generasi setiap masa,khususnya generasi sekarang ini,agar selalu berusaha menjadi yang terbaik dalam urusan dunia dan akhirat ( be the best in word living and akhirat living) juga menjadi generasi yang tidak menutup mata dan hati akan kenyataan yang ada di hadapan kita tentang kehidupan dan kondisi umat isalam,serta tidak terdidik menjadi generasi islam yang lembek dan manja.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.

08.22

Teks MSQ

MEMBEDAH PERANAN SIGNIFIKAN SHALAT DALAM MEREDAM GELOMBANG KEJAHATAN DAN KEMUNGKARAN

TEKS MUSABAQAH SYARHIL QUR’AN (MSQ)
TINGKAT KABUPATEN SUMBAWA XX
DI KECAMATAN MOYO HILIR
KAFILAH KEC.BATULANTEH
2008


Bapak Dewan Hakim Yang Kami Hormati,
Hadirin Yang Berbahagia.
Alhamdulillah segala puji bagi Allah, itulah alunan pujian dan pujaan kehadirat Allah SWT yang layak disenandungkan sebagai manifestasi rasa syukur yang mendalam sekaligus ucapan pembukaan uraian pensyarahan kami di hari yang indah ini.
Untaian sholawat dan salam kekaguman dan ketakziman sebagai perwujudan kecintaan kita kepada baginda junjungan alam, pembawa pelita kebenaran, penebar lentera keselamatan, pengibar risalah kedamaian dan keadilan sejagat Muhammad Rasulullah SAW. hendaklah menjadi wirid yang senantiasa mengalun merdu dari setiap kita kaum muslimin.

Dewan Hakim Yang Kami Hormati,
Hadirin Yang Berbahagia.
Melalui moment Musabaqoh Al-Qur’an ini perkenankan kami mengetengahkan sebuah pensyarahan yang berjudul “Membedah Peranan Signifikan Sholat dalam Meredam Gelombang Kejahatan dan Kemungkaran”.
Sebagai titik tolak materi syarahan ini sejenak marilah kita simak gema wahyu ilahi yang tertera jelas dalam surat Al-Ankabut ayat 45 berikut ini:
Artinya: Bacalah apa yang telah diwahyukan kepada mu, yaitu Al-Qur’an dan dirikan sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar dan sesungguhnya mengingat Allah (sholat), lebih besar keutamaanya dari ibadah yang lain. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Bapak Dewan Juri Yang Kami Hormati.
Hadirin yang Berbahagia.
Ayat di atas memberikan penjelasan yang cukup terang tentang betapa shalat sesungguhnya menyimpan muatan kekuatan pencegahan efektiff menghalau gulungan Kejahatan yang kerap kali datang mengeksploitasi kesakralan fitrah kemanusiaan. Karenanya bisa dipahami jika kemudian shalat menjadi kewajiban keagamaan mutlak bagi setiap muslim.
Shalat adalah satu bentuk ibadah ritual transendental yang dapat memberikan nuansa tersendiri terhadap sikap dan prilaku pelakunya. Disyariatkannya shalat adalah dalam upaya pembentukan manusia bermartabat yang senantiasa berjalan diatas rel-rel kemanusiaan. Pencapaian ketenangan dan mencegah kemungkaran begitulah ekses rohaniah atau titik final yang diharapkan terpancar dari nilai-nilai individual dan sosial ibadah sholat dalam menyinari gerak langkah para pelakunya.
Shalat merupakan sistem hidup, cara pembinaan dan pola edukasi yang paripurna meliputi kebutuhan fisik, psykis dan hati. Itulah sebabnya Rasulullah Saw, manakala ditimpah suatu persoalan atau mengharap sesuatu, beliau segera membawa jiwa dan raganya tenggelam dalam samudera indahnya shalat menuju kepada Allah SWT, beliau melakukan itu karena memang shalat yang paling mungkin dijadikan terminal jiwa yang teduh, untuk mengadu kepada Dzat yang maha tahu dari berbagai prolematika yang dihadapi.
Shalat adalah jendela solusi untuk semua bentuk kesulitan dan masalah yang datang menerepa. Bercemin kepada Rasullah SAW bahwa shalat bagi beliau adalah kesenangan dan kenikmatan. Ia merupakan permata hati, pelipur lara, dan penghapus duka, tempat kembali dan tumpangan menuju Allah dari berbagai kebigungan, kesedihan, kesusahan dan kesesakan hingga ia merasakan adanya bantuan yang datang dari Allah, Rabb yang menguasai langit dan bumi.

Dewan hakim yang kami hormati,
Hadirin yang ber bahagia
Adalah sejatinya orang muslim, bahwa shalat yang dilakukannya hendaklah dapat meredam laju gerakan perbuatan - perbuatan yang sekiranya memungkinkan dirinya terjerumus kelembah kemakziatan dan kemungkaran. Shalat seharusnya menjadi kekuatan tangguh penghalau seseorang agar tidak terbuai oleh kelap-kelip gemerlapnya kehidupan syaitoniyah yang dikemas indah nan menawan, namun hakikatnya menyimpan muatan kebusukan dan keburukan akan masa depan kehidupan moral dan spiritual seseorang.
Dalam kapasitas sebagai pribadi muslim dan elemen masyarakat bangsa yang religius, perlu kiranya kita melakukan penyadaran diri, melalui proses koreksi dan introspeksi diri, mengapa fenomena-fenomena kemungkaran masih terus survive menghiasi sebagian sisi kehidupan di negeri ini, bahkan kian hari semakin nampak terang dalam sosoknya yang vulgar dan transparan mewarnai gelanggang kehidupan komunitas warga yang nota bene mayoritasnya beridentitas muslim. Kini beragam makziat kian menari asyik di sekeliling kita. Di sana sini beragam penyimpangan dari yang tersembunyi hingga kasat mata makin tak malu menampakkan jati dirinya atau bahkan kitalah yang menjadi salah satu pemainnya, yang jelas sangat mugkin suatu kali kita pernah menjadi aktor dari lakon tersebut. Karena memang kebaikan dan keburukan menjadi tinta sejoli yang selalu tak alpa dalam memoles tiap relung dan cela jati diri anak manusia. Sebuah persolan besar yang menuntut jawaban dari kita semua ummat muslim negeri ini,
Sebagai bangsa yang sedang bangkit dari keterpurukan dan krisis multi dimensional serta dalam memperbaiki dan menata kembali elemen kehidupan yang porak poranda, mengejar ketertinggalan dan keterbelakangan, memerangii kemiskinan dan kebodohan serta dalam proses memecahkan kompleksitas permasalahan secara komprehensif menuju masa depan bangsa yang jaya dan mandiri, maka perlu orang-orang yang pribadinya tertata apik oleh nilai sholat yaitu ‘Tanha anil fahsya wal mungkar’.

Dewan hakim yang kami hormati.
Hadirin yang berbahagia
Semestinya ummat islam harus mampu mentranspormasikan nilai-nilai sholat dalam realitas kehidupan sosial, sehingga tercipta suatu bentuk tatanan kehidupan aman, nyaman dan tentunya steril dari noda-noda hitam kejahatan. Nampaknya inilah yang menjadi titik sentrum pemicu lahirnya persoalan-persoalan keummatan yang berakibat negatif bagi diri dan juga orang lain.Ternyata sholat yang dilakukan sesungguhnya baru berada pada tataran aktifitas ritualitas rutinitas, namun belum menyentuh titik kualitas yang mampu memantulkan implikasi positif dan konstruktif dalam pembentukan karakter dan performancenya.

Bapak dewan hakim yang kami hormati
Hadirin yang berbahagia
Dalam upaya menjadikan sholat berkualitas, diperlukan adanya kiat-kiat khusus baik secara lahiriah maupun batiniah. Berikut beberapa resep ampuh sebagaimana dikemukakan Imam Ghazali dalam buah karyanya yang sangat populer yaitu kitab Ihya Ulumudin. Pertama, Khudhurul Qalbi atau menghadirkan jiwa, yakni pada saat kita melaksanakan sholat maka konsentrasi kita harus terfokus pada satu titik yaitu menghadap Allah yang kita sembah dan mengesampingkan persoalan duniawi jangan sampai kita masuk dalam kategori orang sholat tetapi masih celaka, seperti di jelaskan dalam Al-Qur’an, Surat Al-Ma’un: 4-5:
Artinya : “Maka celakalah orang-orang yang shalat,yaitu orang-orang yang lalai terhadap sholatnya”.
Kedua, At tafahum. Artinya menghayati apa saja yang di kerjakan dalam sholat, baik berupa bacaan maupun pekerjaan anggota badan lainya karena didalamnya terkandung pernyataan kesiapan janji kepasrahaan secara total kepada Allah Swt, fokus ingatan hanya kepada allah SWT.
Allah berfirman : ( S,Taha :14) :
Artinya : “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tiada Tuhan yang hak selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-KU”.
Ketiga, At Ta‘zhim, Artinya sikap mengagungkan Allah sebagi tuhan yang disembahnya, serta menyadari sepenuhnya bahwa dirinya adalah manusia yang sangat lemah dihadapan sang khaliknya.
Keempat, Al Haibah, yakni rasa takut yang sesungguhnya kepada Allah SWT, bila tuhan maha kuasa, perkasa yang sangat pedih siksa-Nya yang bisah berbuat apa saja menurut kehendak—Nya.
Kelima, Ar Raja’, yakni harapan untuk mendapatkan rahmat dari ridho allah SWT dialah tuhan yang maha pengasih dan maha penyanyang.
Keenam, Al Haya’ yakni rasa malu kepada Allah SWT, karena apa yang disembahkan, kepadanya belum sebanding dengan rahmat dan karunia yang di berikan kepadanya.

Bapak dewan hakim yang kami hormati.
Hadirin yang berbahagia.
Kita harus senantiasa berusaha secara kontinyu dan maksimal untuk menghayati sepenuhnya makna yang dikerjakan dalam sholat, sehingga secara gradual kita dapat memadukan antara ibadah ritual dengan nilai-nilai yang terkandung didalam shalat, yang selanjutnya akan terbias merefleksi dalam prilaku sosial. Mari kita renungi sejenak sabda Nabi Saw berikut ini :
Artinya ;Barang siapa yang sholatnya tidak mampu mencegah dirinya dari perbuatan keji dan mungkar, maka dalam pandangan Allah dia tidak mendapat tambahan apa-apa dari sholatnya itu, melainkan kebencian dan semakin jauh dari-Nya.
Kita tentunya senantiasa mendambakan ketenangan, kesimbangan, ketentraman, baik dalam konteks kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan social kemasyarakatan. Maka kita jualah yang harus menilai untuk berusaha melangkah dan berikhtiar mewujudkannya tampak harus menunggu orang lain melakukannya. Dan sebagai langkah awal adalah dengan menghayati serta menjiwai ibadah yang kita laksanakan. Dari sana nantinya akan tumbuh kesadaran kolektif antar sesama yang berujung pada terciptanya masyarakat religius baik secara spiritual, moral maupun sosial dalam kehidupan yang kita didambakan bersama.
Demikianlah, yang dapat kami sajikan di kesempatan ini, mudah-mudahan dapat menjadi penyejuk jiwa, penerang bathin, penentram hati.
Amin ya robbal alamin.